Jumat, 20 Mei 2011

laporan praktikum lab DOC

Bab 1. Materi dan metoda
1.1. Alat dan bahan
1.1.1.        Salinitas
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini berupa Hand-Refraktometer, tissu dan sedotan. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini berupa akuades dan air media (sampel) dengan berbagai tingkat salinitas.
1.1.2.        Temperatur
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini berupa termometer air raksa. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini berupa air media (sampel).
1.1.3.        Miniatur gelombang
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini berupa gabus, penggaris, stopwatch, dan akuarium dengan volume air tertentu. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini berupa air dengan volume tertentu.
1.1.4.        Densitas
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini berupa akuarium (ukuran 40cm x 20cm x 20cm), termometer air raksa, ember, gayung, kompor listrik, millimeter blog yang sudah dilaminating dan penggaris. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini berupa air, garam, dan zat pewarna (merah dan hijau).
1.1.5.        Cahaya dan kekeruhan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini berupa akuarium kecil, timbangan, karton hitam dan sumber cahaya (senter). Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini berupa air dan sedimen (tepung) dengan beberapa variasi berat (gram).

1.2. Prosedur kerja
1.2.1.        Salinitas
a.       Pengenalan alat Hand-Refraktrometer :
Ø  Bagian-bagian alat
Ø  Alat/bahan pendukung
Keterangan :
1.       Teropong untuk melihat skala
2.       Tempat sampel
2a. Dilihat dari atas (bagian kaca adalah tempat air sampel)
3.       Cover/penutup tempat sampel
4.       Baut kaliberasi
5.       Skala pengukuran, yang akan terlihat dari teropong
b.      Cara mengoperasikan Hand-Refraktrometer :
Pastikan alat ini sudah dikalibrasi dengan cara cover/penutup dibuka. Tempat sampel bagian kacanya ditetesi dengan akuades. Dibersihkan dengan tisu. Tetesi dengan akuades, tutup cover, alat diarahkan pada arah sinar datang. Skala diamati/dilihat dari teropong, apabila skala belum menunjukan angka nol maka perlu disesuaikan dengan memutar baut kaliberasi. Lakukan dengan hati-hati dan atas sepengetahuan asisten atau dosen. Setelah dikaliberasi cover dibuka dengan hati-hati. Bagian kaca (tempat sampel) dibersihkan dengan kertas tissue. Beberapa ml air media diambil dengan menggunakan sedotan, teteskan pada permukaan kaca (tempat sampel). Cover ditutup kembali. Refraktrometer tersebut diarahkan kearah datangnya cahaya. Salinitas sampel air dibaca melalui teropongnya. Angka yang ditunjukkan oleh garis batas biru dan putih dalam lingkaran adalah angka salinitas sampel air. Lalu dicatat hasilnya.
c.       Cara merawat/membersihkan Hand-Refraktrometer
Cover/penutup dibuka. Tempat sampel bagian kacanya ditetesi dengan akuades beberapa kali sampai larutan garam bersih dan tidak ada Kristal-kristal garam yang tersisa. Dibersihkan dengan tisu. Apabila masih kurang bersih tetesi kembali dengan akuades. Cover lalu ditutup.
1.2.2.        Temperatur
Termometer air raksa dimasukkan ke dalam akuarium atau sampel air, diamkan beberapa saat. Ketika air raksa dalam thermometer sudah tidak bergerak. Ketinggian air raksa dibaca dalam thermometer tersebut. Angka suhu air ditunjukkan oleh ketinggian skala air raksa. Lalu dicatat hasilnya.
1.2.3.        Miniatur gelombang
Empat orang disiapkan dimana masing orang bertugas sebagai pemegang stopwatch/penghitung waktu, menghitung banyaknya gelombang, menghitung tinggi gelombang dan menenggelamkan gabus. Pertama, orang yang bertugas menenggelamkan gabus melakukan hal tersebut dalam tiga kali perlakuan. Perlakuan tersebut berturut-turut gabus berada di permukaan, tengah dan dasar. Setelah gabus di tenggelamkan maka amati perubahan muka air berupa tinggi gelombang, panjang gelombang serta frekuensi gelombang. Hasilnya dicatat.
1.2.4.        Densitas
a.       Persiapan alat dan bahan
Akuarium dan air tawar dengan volume 10 liter dipersiapkan. Garam ditimbang sesuai dengan salinitas yang telah ditentukan. Berdasarkan volume air yang tersedia dan siapkan zat pewarna. Air tawar yang dipanaskan dengan suhu kurang lebih 400C disiapkan.
b.      Jalannya percobaan
Air tawar dengan air volume yang telah ditentukan disiapkan kedalam akuarium (tanpa penambahan zat pewarna). Garam ditimbang dengan berat tertentu dan dimasukkan pada gayung dengan volume yang telah ditentukan, aduk hingga rata agar larut untuk mendapatkan salinitas yang telah ditentukan dan diberi pewarna. Air bewarna dengan salinitas tertentu dituangkan ke dalam akuarium secara hati-hati melalui sisi kaca, perubahan yang terjadi diamati lalu dicatat.
1.2.5.        Cahaya dan kekeruhan
a.       Persiapan alat dan bahan
Akuarium dipersiapkan dan diisi dengan air 8 liter. Sedimen timbang; missal untuk konsentrasi 5 gram/liter berarti untuk 8 liter memerlukan sedimen sebanyak 5 x 8. Yaitu 40 gram. Lalu senter disiapkan sebagai sumber cahaya.
b.      Jalannya percobaan
Setelah akuarium diisi air. Sedimen dimasukkan ke dalam akuarium dan diaduk sampai homogen. Ruangannya diharapkan gelap. Sumber cahaya dinyalakan (senter) dari arah sisi lebar akuarium, panjang lintasan sinar yang mampu menembus air terhitung dari sisi akuarium dihitung.
1.3. Waktu dan tempat
Praktikum laboratorium ini dilakukan pada hari Minggu tanggal 3 April 2011 bertempat di laboratorium akuatik Jurusan Perikanan dan Kelautan, UNSOED.

BAB 2. Hasil dan Pembahasan

2.1. Hasil
Tabel 1. Data Pengamatan Densitas
Perlakuan
Bagian
Parameter
Kecerahan
(%)
Temperatur (0C)
Salinitas (ppt)
Warna
Awal
Permukaan
29
0
Bening
100
Tengah
29
0
Bening
100
Dasar
29
0
Bening
100
Salinitas
(hijau)
Permukaan
28
0
Bening
18,7
Tengah
28
1
Hijau Bening
32,08
Dasar
28
2
Hijau Pekat
49,19
Temperatur
(merah, 400C)
Permukaan
30
0
Merah Bening
52,85
Tengah
29
1
Merah Pekat
33,33
Dasar
28,5
3
Hijau Keruh
13,8

Tabel 2. Data Pengamatan Miniatur Gelombang
Parameter Gelombang
Pengaruh Perlakuan
Kecil
Sedang
Besar
Panjang gelombang (m)
0,39
0,2925
0,195
Tinggi (cm)
0,6
1,4
1,6
Kecepatan (m/s)
0,3305
0,2812
0,2853
Jarak gelombang (m)
0,585
0,585
0,585
Periode (s)
1,18
1,04
0,68

Tabel 3. Data Pengamatan Cahaya dan kekeruhan
Tepung (x 100%)(gr/L)
Kecerahan (cm)
( % )
0
40
100
2,5
40
100
5
20
50
7,5
13
32,5
10
10
25
12,5
4
10






2.2. Pembahasan
2.2.1.     Densitas
               













Gambar 1.1
 



Gambar 1.2
 



                                                                                                                                




Gambar 1.3                                                                          Gambar 1.4






                          Gambar 1.5                                                                          Gambar 1.6
Keterangan. Gambar (1.1) perlakuan awal. (1.2) perlakuan salinitas (garam dan pewarna dalam air 1 liter). (1.3) proses menuangkan ke dalam akuarium. (1.4) perbedaan komposisi warna setelah dicampur. (1.5) pengukuran temperatur. (1.6) pengukuran salinitas menggunakan hand-refraktrometer.
Densitas merupakan salah satu parameter terpenting dalam mempelajari dinamika laut. Perbedaan densitas yang kecil secara horisontal (misalnya akibat perbedaan pemanasan di permukaan) dapat menghasilkan arus laut yang sangat kuat. Oleh karena itu penentuan densitas merupakan hal yang sangat penting dalam oseanografi. Densitas air laut bergantung pada temperatur (T), salinitas (S) dan tekanan (p). Densitas bertambah dengan bertambahnya salinitas dan berkurangnya temperatur, kecuali pada temperatur di bawah densitas maksimum. Densitas air laut terletak pada kisaran 1025 kg m-3 sedangkan pada air tawar 1000 kg m3. Perlu diperhatikan bahwa densitas maksimum terjadi di atas titik beku untuk salinitas di bawah 24,7 dan di bawah titik beku untuk salinitas di atas 24,7. Hal ini mengakibatkan adanya konveksi panas (Prager et al., 2000)
Profil temperatur di suatu perairan menunjukkan bahwa kolom air laut terbagi menjadi tiga lapisan utama, yaitu lapisan permukaan yang tercampur sempurna (mixed layer), lapisan termoklin (thermocline layer) dan lapisan dalam (deep layer). Untuk temperatur perairan, khususnya perairan Indonesia, temperatur air dipengaruhi oleh siklus perubahan musim (Wyrtki, 1961). Selain oleh musim, temperatur air di suatu perairan juga dipengaruhi oleh intensitas matahari, kedalaman dan daratan di sekililingnya (Sidjabat, 1974). Suhu air laut, terutama lapisan permukaan, ditentukan oleh pemanasan matahari yang intensitasnya senantiasa berubah terhadap waktu, sehingga suhu air laut akan konstan dengan perubahan intensitas penyinaran matahari tersebut. Perubahan suhu ini dapat terjadi secara : (1) harian, (2) musiman, (3) tahunan, dan (4) jangka panjang (Sidjabat, 1978 dalam Dewi 2009).
Salinitas merupakan jumlah gram garam yang terlarut dalam satu kilogram air laut (Millero and Sons, 1992). Konsentrasi garam dikontrol oleh batuan alami yang mengalami pelapukan, tipe tanah, dan komposisi kimia dasar perairan. Salinitasmerupakan indikator utama untuk mengetahui penyebaran massa air lautan sehingga penyebaran nilai-nilai salinitas secara langsung menunjukkan penyebaran dan peredaran massa air dari satu tempat ke tempat lainnya. Penyebaran salinitas secara alamiah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain curah hujan, pengaliran air tawar ke laut secara langsung maupun lewat sungai dan gletser, penguapan, arus laut, turbulensi percampuran, dan aksi gelombang (Meadows dan Campbell., 1988; Illahude, 1999)


Berdasarkan tabel 1, temperatur yang berada di bagian permukaan memiliki temperatur yang paling tinggi dibandingkan dengan bagian yang lain, rata-ratanya sebesar 290C. Sedangkan pada bagian dasar memiliki temperatur paling rendah, rata-ratanya sebesar 280C. Hal ini menunjukkan bahwa semakin dalam dari permukaan air maka semakin rendah temperaturnya. Hal ini terjadi karena pada bagian permukaan temperatur dipengaruhi oleh intensitas matahari dan temperatur lingkungannya (Sidjabat, 1978). Berbanding terbalik pada temperatur, salinitas terendah terdapat pada bagian permukaan dengan rata-rata 0 ppt dan salinitas tertinggi berada pada bagian dasar dengan rata-rata 2 ppt. sedangkan pada perlakuan awal memiliki salinitas 0 ppt, dikarenakan air yang digunakan adalah akuades.
Pada perlakuan salinitas dengan pemberian warna hijau posisinya tedapat dibagian dasar sedangkan pada bagian permukaan berwarna bening. Selanjutnya dengan perlakuan temperatur 400C diberi warna merah berada pada posisi bagian permukaan. Hal ini menunjukan bahwa temperatur yang tinggi memiliki berat jenis yang lebih ringan, sedangkan salinitas yang tinggi memiliki berat jenis yang lebih tinggi. Hal ini sesuai  dengan pernyataan bahwa Densitas bertambah dengan bertambahnya salinitas dan berkurangnya temperatur, kecuali pada temperatur di bawah densitas maksimum. Densitas air laut bergantung pada temperatur (T), salinitas (S) dan tekanan (p) (Prager et al., 2000).

2.2.2.     Miniatur gelombang







                                  Gambar 2.1                                                                      Gambar 2.2
Keterangan. Gambar (2.1) persiapan alat. Gambar (2.2) percobaan dengan beberapa macam tekanan.
Gelombang adalah pergerakan naik turun badan perairan yang dinyatakan dengan naik turunnya permukaan air secara bergantian serta tidak stabilnya permukaan air karena terjadinya pertukaran energi dengan sedikit kehilangan energi (hutabarat, 1985). Gerakan air lautan dapat dibedakan menjadi 3 golongan utama, yaitu gerakan air berarah (didapatkan pada arus-arus lautan), gerakan air tak menentu (pada peristiwa turbulensi dan mixing), gerak air berjangka (didapatkan pada gelombang dan pasang) (Brahmana, 2001).
Apabila muka laut mendapatkan tekanan angin (wind stress), terbentuklah tinggi gelombang dan selanjutnya arus permukaan terbentuk. Jika tinggi gelombang kuat, maka kecepatan arus berubah membesar dan terbentuklah longshore current yang kuat, yang mengakibatkan sedikit demi sedikit pantai tersebut akan terjadi abrasi. Penentu adanya abrasi selain oleh gelombang dan arus, juga ditentukan pula oleh kondisi batimetri yang tidak stabil (Horikawa, 1988). Idealnya suatu gelombang mempunyai bentuk sinous. Beberapa sifat gelombang yang penting untuk diperhatikan adalah puncak (crust) merupakan bagian tertinggi gelombang, lembah (trough) bagian terendah dari gelombang, tinggi gelombang (H) merupakan jarak tegak lurus antara ujung dan dasar lembah, amplitude (A) adalah ½ H, periode gelombang (T) adalah waktu yang dilewati antara terjadinya puncak berikutnya (Brahmana, 2001).
Tiga faktor yang menentukan karakteristik gelombang yang dibangkitkan oleh angin (Davis, 1991) yaitu : (1) lama angina bertiup atau durasi angina, (2) kecepatan angina dan (3) fetch (jarak yang ditempuh oleh angin dari arah pembangkit gelombang atau daerah pembangkit gelombang). Semakin lama angin bertiup, semakin besar jumlah energy yang dapat dihasilkan dalam pembangkitan gelombang. Demikian halnya dengan fetch, gelombang yang bergerak keluar dari daerah pembangkitan gelombang hanya memperoleh sedikit tambahan energy. Gelombang yang merambat dari perairan dalam menuju ke perairan dangkal (pantai) akan mengalami perubahan perilaku gelombang (transformasi) dari sifat dan parameter gelombang seperti proses refraksi, shoaling, refleksi maupun difraksi akibat pengaruh karakteristik dan bentuk pantai. Pantai selalu menyesuaikan bentuk profilnya sehingga mampu mereduksi energy gelombang yang datang. Penyesuaian bentuk tersebut merupakan respon dinamis alami pantai terhadap laut. Ada dua tipe respon dinamis pantai terhadap gerak gelombang yaitu respon terhadap kondisi gelombang normal dan respon terhadap kondisi gelombang badai ( Triatmodjo, 1999 dalam John, 2009)


Grafik 2. Miniatur gelombang
Hasil praktikum miniatur gelombang disajikan pada tabel 2. Pada perlakuan miniatur gelombang dengan tenaga yang kecil menghasilkan panjang gelombang dan kecepatan tertinggi yaitu 0,39 m dan 0,3305 m/s, tetapi tinggi gelombang yang terjadi paling rendah yaitu 0,6 cm. pada perlakuan miniatur gelombang dengan tenaga yang sedang menghasilkan panjang dan kecepatan gelombang masing-masing 0,2925 dan 1,4. Pada perlakuan miniatur gelombang dengan tenaga yang besar menghasilkan panjang gelombang paling rendah yaitu 0,195 m, tetapi menghasil tinggi gelombang terbesar yaitu 1,6 cm, kecepatannya 0,2853 m/s. hal ini menunjukkan bahwa semakin besar tenaga yang dikeluarkan untuk menciptakan gelombang maka semakin tinggi nilai dari tinggi gelombang dan semakin rendah panjang gelombang, dikarenakan semakin besar tenaga yang diciptakan untuk menghasilkan gelombang semakin banyak juga frekuensi dari gelombang yang tercipta sehingga panjang gelombang akan semakin kecil. Tetapi pada kecepatan gelombang tidak sesuai dengan referensi yaitu Jika tinggi gelombang kuat, maka kecepatan arus berubah membesar dan terbentuklah longshore current yang kuat (Horikawa, 1988). Hal ini terjadi dikarenakan kesalahan atau ketidaktepatan dalam menentukan waktu yang ditempuh sehingga membuat perhitungan kecepatan menjadi tidak sesuai dengan referensi.
2.2.3. Cahaya dan kekeruhan





            Gambar 3.1                                                                    Gambar 3.2






                                            Gambar 3.3                                                                    Gambar 3.4
Keterangan. Gambar (3.1) persiapan alat dan bahan. Gambar (3.2) proses pemberian sedimen (tepung). Gambar (3.3) diberikan perlakuan berupa cahaya (senter). Gambar (3.4) penghitungan penetrasi cahaya.
Air yang keruh akan menyebabkan intensitas cahaya yang masuk kedalamnya berkurang. Dengan demikian tingkat kekeruhan air dapat dideteksi dengan alat pengukur intensitas cahaya (Masroah, 2006). Cahaya matahari merupakan sumber energi yang utama bagi kehidupan jasad termasuk kehidupan di perairan karena ikut menentukan produktivitas perairan. Intensitas cahaya matahari merupakan faktor abiotik utama yang sangat menentukan laju produktivitas primer perairan, sebagai sumber energi dalam proses fotosintesis (Boyd, 1982). Kedalaman perairan dimana proses fotosintesis sama dengan proses respirasi disebut kedalaman kompensasi. Kedalaman kompensasi biasanya terjadi pada saat cahaya di dalam kolom air hanya tinggal 1 % dari seluruh intensitas cahaya yang mengalami penetrasi dipermukaan air.Kedalaman kompensasi sangat dipengaruhi oleh kekeruhan dan keberadaan awan sehingga berfluktuasi secara harian dan musiman (Effendi, 2003).
Kekeruhan merupakan sifat fisik air yang tidak hanya membahayakan ikan tetapi juga menyebabkan air tidak produktif karena menghalangi masuknya sinar matahari untuk fotosintesa. Kekeruhan ini disebabkan air mengandung begitu banyak partikel tersuspensi sehingga merubah bentuk tampilan  menjadi berwarna dan kotor. Adapun penyebab kekeruhan ini antara lain meliputi tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik yang tersebar secara baik dan partikel-partikel kecil tersuspensi lainnya. Tingkat kekeruhan air di perairan mempengaruhi tingkat kedalaman pencahayaan matahari, semakin keruh suatu badan air maka semakin menghambat sinar matahari masuk ke dalam air. Pengaruh tingkat pencahayaan matahari sangat besar pada metabolism makhluk hidup dalam air, jika cahaya matahari yang masuk berkurang maka makhluk hidup dalam air terganggu, khususnya makhluk hidup pada kedalaman air tertentu, demikian pula sebaliknya (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005; Alaerts dan Santika, 1987).
Padatan tersuspensi dan kekeruhan memiliki korelasi positif yaitu semakin tinggi nilai padatan tersuspensi maka semakin tinggi pula nilai kekeruhan. Akan tetapi, tingginya padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan tingginya kekeruhan. Air laut memiliki nilai padatan terlarut yang tinggi, tetapi tidak berarti kekeruhannya tinggi pula (Effendi, 2003). Padatan tersuspensi perairan yang baik untuk usaha budidaya perikanan laut adalah 5 – 25 mg/l (KLH, 2004).



Grafik 3. Cahaya dan kekeruhan

Hasil praktikum yang dilakukan pada tanggal 3 april 2011 di Laboratorium Jurusan Perikanan dan Kelautan UNSOED dapat dilihat pada tabel 3.  Ada enam perlakuan pemberian kadar tepung yang berbeda-beda satu kelompok dengan kelompok yang lainnya. Pada tepung yang berkadar 12,5 gr/L memiliki tingkat kecerahan paling kecil yaitu 4 cm dari total panjang akuarium sebesar 40 cm dan semakin kecil pemberian sedimen (tepung) maka semakin besar tingkat kecerahaannya, seperti pada perlakuan 0 gr/L tepung memiliki kecerahan 100% atau 40 cm.. Hal ini sesuai dengan referensi bahwa Padatan tersuspensi dan kekeruhan memiliki korelasi positif yaitu semakin tinggi nilai padatan tersuspensi maka semakin tinggi pula nilai kekeruhan (Effendi, 2003).


BAB 3. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum laboratorium dapat disimpulkan bahwa :
1.       Salinitas yang memiliki konsentrasi lebih tinggi posisinya pada perairan akan lebih dalam dibandingkan dengan salinitas yang memiliki konsentrasi lebih rendah. Alat yang digunakan untuk menghitung nilai salinitas adalah refraktrometer.
2.       Temperatur pada permukaan perairan akan lebih tinggi dibandingkan yang berada di dasar perairan. Alat yang digunakan untuk menghitung temperature adalah thermometer.
3.       Nilai densitas bertambah dengan bertambahnya niali salinitas dan berkurangnya nilai temperatur.
4.       Semakin tinggi tenaga untuk menghasilkan gelombang, maka semakin besar juga tinggi gelombang dan semakin kecil panjang gelombangnya.
5.       Kekeruhan disebabkan oleh suspended matter sehingga mengurangi penetrasi cahaya
Daftar Pustaka
Boyd, C.E., 1982. Water Quality for pond fish culture. Elsevier scientific publishing company. Amsterdam the Netherland.
Brahmana. Pembela.2001. Ekologi Laut. Universitas Terbuka.
Davis, R. A. Jr. 1991. Oceanography ; An Introduction to the Marine Environment. THE PATTERN OF WAVE TRANSFORMATION USING RCPWave MODEL AT BAU-BAU COAST, SOUTHEAST SULAWESI PROVINCE, Hal 2.
Triatmodjo, B. 1999. Teknik Pantai. THE PATTERN OF WAVE TRANSFORMATION USING RCPWave MODEL AT BAU-BAU COAST, SOUTHEAST SULAWESI PROVINCE, Hal 2.
Effendie. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Jogjakarta: Kanisius.
Hutabarat, S. dan S.M. Evans. 1985. Pengantar Oseanografi. Jakarta: Universitas Indonesia.
K. Wyrtki, 1961. Physical Ocenography in the Southeast Asian Waters. KONDISI OSEANOGRAFI FISIKA PERAIRAN BARAT SUMATERA (PULAU SIMEULUE DAN SEKITARNYA) PADA BULAN AGUSTUS 2007 PASCA TSUNAMI DESEMBER 2004, Hal 3.
K. Horikawa, (Ed.), 1988. Nearshore Dynamics and Coastal Process. KARAKTERISTIK GELOMBANG DAN ARUS DI ERETAN, INDRAMAYU, Hal 1.
M.M. Sidjabat, 1974. Pengantar Oseanografi. KONDISI OSEANOGRAFI FISIKA PERAIRAN BARAT SUMATERA(PULAU SIMEULUE DAN SEKITARNYA) PADA BULAN AGUSTUS 2007PASCA TSUNAMI DESEMBER 2004, Hal 3.
Masroah, 2006. Pemanfaatan Rangkaian Pengukur Intensitas Cahaya Untuk Rancang Bangun Alat Pengukur Tingkat Kekeruhan Air. Malang: Universitas Muhammdiyah Malang.
Meadows, P.S., Campbell, J.I.1988, An Introduction to Marine Science. ANALISIS SEBARAN TEMPERATUR DAN SALINITAS AIR LIMBAH PLTU-PLTGU BERDASARKAN SISTEM PEMETAAAN SPASIAL (STUDI KASUS : PLTU-PLTGU TAMBAK LOROK SEMARANG), Hal 3.
Millero, F.J. dan Sohn, M.L., 1991, Chemical Oceanography. ANALISIS SEBARAN TEMPERATUR DAN SALINITAS AIR LIMBAH PLTU-PLTGU BERDASARKAN SISTEM PEMETAAAN SPASIAL (STUDI KASUS : PLTU-PLTGU TAMBAK LOROK SEMARANG), Hal 2.
Prager, Ellen J, and Sylvia A, 2000. The Oceans. HIGH-DENSITY INTREGRATED OPTICS, Hal 1.


Baharuddin. 2009. POLA TRANSFORMASI GELOMBANG DENGAN MENGGUNAKAN MODEL RCPWave PADA PANTAI BAU-BAU, PROVINSI SULAWESI TENGGARA. E-jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 1, No.2, Hal. 60-71.
Setiyo, Haryono. 2007. ANALISIS SEBARAN TEMPERATUR DAN SALINITAS AIR LIMBAH PLTU-PLTGU BERDASARKAN SISTEM PEMETAAN SPASIAL. Jurnal PRESIPITASI Vol. 3, No. 3
Hadikusumah. 2009. KARAKTERISTIK GELOMBANG DAN ARUS DI ERETAN, INDRAMAYU. Jurnal SAINS vol. 13, No. 2, Hal 163-172
Surinati, dewi. 2009.KONDISI OSEANOGRAFI FISIKIA PERAIRAN BARAT SUMATERA (PULAU SIMEULUE DAN SEKITARNYA) PADA BULAN AGUSTUS 2007 PASCA TSUNAMI DESEMBER 2004. Jurnal SAINS, Vol.13, No. 1, Hal. 17-22
Shan, shung. 2005. WAVE FORCES ON A LARGE STRUCTURE IN THE PRESENCE OF A CURRENT. Journal of marine science and technology, Vol.7, No.1, Hal. 17-25
Manolatou, C. 2006. HIGH-DENSITY INTEGRATED OPTICS. Journal of lightwafe technology, Vol. 17, No.9

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar